Saraf adalah serat-serat yang menghubungkan organ-organ
tubuh dengan sistem saraf pusat (yakni otak dan sumsum tulang belakang) dan
antar bagian sistem saraf dengan lainnya. Saraf membawa impuls dari dan ke otak
atau pusat saraf. Neuron kadang disebut sebagai sel-sel saraf, meski istilah
ini sebenarnya kurang tepat karena banyak sekali neuron yang tidak membentuk
saraf.
Saraf adalah bagian dari sistem saraf periferal. Saraf
aferen membawa sinyal sensorik ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen
membawa sinyal dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar.
Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson
PEMBAGIAN SISTEM SARAF
1. OTAK
Otak dibagi 2 yaitu otak besar (serebrum ) dan otak kecil (
serebelum ) . otak besar terdiri dari lobus frontalis, lobus parientalis, lobus
oksipitalis dan lobus temporalis. Permukaan otak bergelumbang dan berlekuk-lekuk
membentuk seperti sebuah lekukan yang disebut girus.
OTAK BESAR
motorik : impuls yang diterima diteruskan oleh sel-sel saraf
kemudian menuju ke pusat kontraksi otot
sensorik : setiap impuls sensorik dihantarkan melalui akson
sel-sel saraf yang selanjutnya akan mencapai otak antara lain ke korteks
serebri.
Refleks : berbagai kegiatan refleks berpusat di otak dan
batang otak sebagian lain di bagian medulla spinalis.
Kesadaran : bagian batang otak yang disebut formasio retikularis
bersama bagian lain dari korteks serebri menjadi pusat kesadaran utama.
Fungsi luhur : pusat berfikir , berbicara berhitung dan lain
– lain.
OTAK KECIL
Otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan dan kooardinasi
gerakan. Pada daerah serebelum terdapat sirkulus willisi, pada dasar otak
disekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara
rangkaian arteri carotid interna dan vertebral, lingkaran inilah yang disebut
sirkulus willisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotid interna,
anterior dan arteri serebral bagian tengah dan arteri penghubung anterior dan
posterior. Arteri pada sirkulus willisi memberi alternative pada aliran darah
jika salah satu aliran darah ateri mayor tersumbat.
CAIRAN SEREBROSPINAL
Merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna dengan berat
jenis 1,007. diproduksi didalam ventrikel dan bersirkulasi disekitar otak dan
medulla spinalis melalui sistem ventricular. Cairan CSS diproduksi di pleksus
koroid pada ventrikel lateral ketiga dan keempat, secara organik dan non
organik cairan CSS sama dengan plasma tetapi mempunyai perbedaan konsenterasi.
CSS mengandung protein, glokosa dan klorida, serta immunoglobulin. Secara normal
CSS hanya mengandung sel darah putih yang sedikit dan tidak mengandung sel
darah merah. Cairan CSS didalam tubuh diserap oleh villiarakhnoid.
MEDULA SPINALIS
merupakan pusat refleks - refleks yang ada disana
penerus sensorik ke otak sekaligus tempat masuknya saraf
sensorik
penerus impuls motorik dari otak ke saraf motorik
pusat pola geraka sederhana yang telah lama di pelajari
contoh melangkah.
SYARAF SOMATIK
Merupakan saraf tepi berupa saraf sensorik dari perifer ke
pusat dan saaf motorik dari pusat ke perifer. Berdasarkan tempat keluarnya
dibagi menjadi saraf otak dan saraf spinal.
Saraf otak ada 12 pasang :
saraf olfaktorius ( N1 ) : untuk penghidu penciuman
saraf opticus ( N2 ) : saraf penglihatan
saraf okulomotorius ( N3 ) : saraf motorik penggerak otot
bola mata
saraf troklearis ( N4 ) : motorik penggerak bola mata
saraf trigeminus ( N5 ) : merupakan saraf sensorik dan
motorik dengan 3 cabang yaitu bagian optical, maksilaris, mandibularis.
saraf abdusens ( N6 ) : motorik penggerak bola mata
saraf fasialis ( N7 ) : sensorik daerah wajah
saraf audiotorius ( N8 ) : sensorik pendengaran dan
keseimbangan
saraf glosofaringeus ( N9 ) : sensorik dan motorik sekitar
lidah dan faring
saraf vagus ( N10 ) : merupakan saraf otonom terutama pada
paru, jantung, lambung, usus halus dan sebagian usus besar.
saraf asesorius ( N11 ) : motorik pengerak otot sekitar
leher
saraf hipoglosus ( N12 ) : motorik otot lidah
SARAF SPINAL
Dari medulla spinalis keluar pasangan saraf kiri dan kanan
vertebra :
saraf servikal 8 pasang
saraf torakal 12 pasang
saraf lumbal 5 pasang
sara sacrum / sacral 5 pasang
saraf koksigeal 1 pasang
saraf spinal mengandung saraf sensorik dan motorik, serat
sensorik masuk medula spinalis melalui akar belakang dan serat motorik kaluar
dari medula spinalis melalui akar depan kemudian bersatu membentuk saraf spinal
Saraf-saraf ini sebagian berkelompok membentuk pleksus (
anyaman ) dan terbentuklah berbagai saraf ( nervus ) seperti saraf iskiadikus
untuk sensorik dan motorik daerah tungkai bawah. Daerah torakal tidak membentuk
anyaman tetapi masing – masing lurus diantara tulang kosta( nervus inter
kostalis ). Umumnya didalam nervus ini juga berisi serat autonom, terutama
serat simpatis yang menuju ke pembuluh darah untuk daerah yang sesuai. Serat
saraf dari pusat di korteks serebri sampai ke perifer terjadi penyebrangan (
kontra lateral ) yaitu yang berada di kiri menyebrang ke kanan begitu pula
sebaliknya. Jadi apabila terjadi kerusakan di pusat motorik kiri maka yang
mengalami gangguan anggota gerak yang sebelah kanan.
SARAF OTONOM
System saraf ini mempunyai kemampuan kerja otonom, seperti
jantung, paru, serta alat pencernaan. Sistim otonom dipengaruhi saraf simpatis
dan parasimpatis.
Peningkatan aktifitas simpatis memperlihatkan :
kesiagaan meningkat
denyut jantung meningkat
pernafasan meningkat
tonus otot – otot meningkat
gerakan saluran cerna menurun
metabolisme tubuh meningkat.
Semua ini menyiapkan individu untuk bertempur atau lari,
semua itu tampak pada manusia apabila menghadapi masalah, bekerja, olah raga,
cemas dan lain – lain, pada keadaan ini terjadi peningkatan peggunaan energi /
katabolisme.
Peningkatan aktifitas parasimpatis memperlihatkan :
kesiagaan menurun
denyut jentung melambat
pernafasan tenang
tonus otot-otot menurun
gerakan saluran cerna meningkat
metabolisme tubuh menurun
hal ini terjadi penyimpanan energi ( anabolisme ) dan
terlihat apabila individu sedang istirahat.
Pusat saraf simpatis berada di medulla spinalis bagian
torakal dan lumbal, sedang pusat parasimpatis berada dibagian medulla oblongata
dan medulla spinalis bagian sacral. Pusat – pusat ini masih dipengaruhi oleh
pusat yang lebih tinggi yaitu di hipotalamus sebagai pusat emosi.
Pemeriksaan Syaraf Kranial
Pemeriksaan saraf merupakan salah satu dari rangkaian
pemeriksaan neurologis yang terdiri dari; 1). Status mental, 2). Tingkat
kesadaran, 3).Fungsi saraf kranial, 4). Fungsi motorik, 5). Refleks, 6).
Koordinasi dan gaya berjalan dan 7). Fungsi sensorik
Agar pemeriksaan saraf kranial dapat memberikan informasi
yang diperlukan, diusahakan kerjasama yang baik antara pemeriksa dan penderita
selama pemeriksaan. Penderita seringkali diminta kesediaannya untuk melakukan
suatu tindakan yang mungkin oleh penderita dianggap tidak masuk akal atau
menggelikan. Sebelum mulai diperiksa, kegelisahan penderita harus dihilangkan
dan penderita harus diberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan untuk
dapat menegakkan diagnosis.Memberikan penjelasan mengenai lamanya pemeriksaan,
cara yang dilakukan dan nyeri yang mungkin timbul dapat membantu memupuk
kepercayaan penderita pada pemeriksa. Penderita diminta untuk menjawab semua
pertanyaan sejelas mungkin dan mengikuti semua petunjuk sebaik mungkin.Suatu
anamnesis lengkap dan teliti ditambah dengan pemeriksaan fisik akan dapat
mendiagnosis sekitar 80% kasus. Walaupun terdapat beragam prosedur diagnostik
modern tetapi tidak ada yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan
fisik.Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak
melalui lubang-lubang pada tulang yang dinamakan foramina, terdapat 12 pasang
saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka romawi. Saraf-saraf
tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II), Okulomotorius (III), troklearis
(IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibula koklearis
(VIII), glossofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII).
Saraf kranial I, II, VII merupakan saraf sensorik murni, saraf kranial III, IV,
XI dan XII merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut
proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinya. Saraf kranial V, VII, X
merupakan saraf campuran, saraf kranial III, VII dan X juga mengandung beberapa
serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf otonom.II. 1.
DEFINISISaraf-saraf kranial dalam bahasa latin adalah Nervi Craniales yang
berarti kedua belas pasangan saraf yang berhubungan dengan otak mencakup nervi
olfaktorii (I), optikus (II), okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus
(V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibulokoklearis (VIII), glosofaringeus
(IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII).Gangguan saraf kranialis
adalah gangguan yang terjadi pada serabut saraf yang berawal dari otak atau
batang otak, dan mengakibatkan timbulnya keluhan ataupun gejala pada berbagai
organ atau bagian tubuh yang dipersarafinya.
ANATOMI DAN FISIOLOGI SARAF
1)SARAF OLFAKTORIUS
(N.I)Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan
olfaktorius. Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada
bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial
lobus orbitalis.Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang
serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area
kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari
sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus
temporal bagian medial sisi yang sama.Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya
sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks tanpa dirilei di talamus.
Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi
serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa
sistem ini ada kaitannya dengan emosi. Serabut utama yang menghubungkan sistem
penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis
talamus. Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat
yang berhubungan dengan talamus, hipotalamus dan sistem limbik.
2) Syaraf Olfaktorius
Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di
retina. Serabut-serabut saraf ini, ini melewati foramen optikum di dekat arteri
optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk
membentuk kiasma optikum. Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai
bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina
ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya.Serabut-serabut dari
lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma,
sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang.
Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir
di kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf
okulomotorius. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan
penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum
lateralis. Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika melewati
bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus
oksipital.Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga
serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk
kuadaran atas melalui lobus temporal. Akibat dari dekusasio serabut-serabut
tersebut pada kiasma optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan
penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya.
3)SARAF OKULOMOTORIUS (N. III)
Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan
substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam
substansia grisea (Nukleus otonom).Nukleus motorik bertanggung jawab untuk
persarafan otot-otot rektus medialis, superior, dan inferior, otot oblikus
inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus otonom atau nukleus
Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata
inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris.
4)SARAF TROKLEARIS (N. IV)
Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior
di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus
okulomotorius. Saraf ini merupakan satu-satunya saraf kranialis yang keluar
dari sisi dorsal batang otak. Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus
superior untuk menggerakkan mata bawah, kedalam dan abduksi dalam derajat
kecil.
5)SARAF TRIGEMINUS (N. V)
Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari
serabut-serabut motorik dan serabut-serabut sensorik. Serabut motorik
mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Serabut-serabut sensorik saraf
trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yatu saraf oftalmikus, maksilaris,
dan mandibularis. Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit, dahi, wajah, mukosa
mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula, dura dalam fosa kranii
anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta
bagian membran timpani.
6)SARAF ABDUSENS (N. VI)
Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons
bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat
saraf abdusens mempersarafi otot rektus lateralis.
7)SARAF FASIALIS (N. VII)
Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik
fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian
ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata. Fungsi
sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan
saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus
interna.Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah
terdiri dari otot orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot
frontal, otot stapedius, otot stilohioideus, otot digastriktus posterior serta
otot platisma. Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior
lidah.
8)SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N. VIII)
Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu
serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang
mengandung serabut-serabut aferen yang mengurusi keseimbangan. Serabut-serabut
untuk pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti koklea di
pons, dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan
kemudian menuju girus superior lobus temporalis. Serabut-serabut untuk keseimbangan
mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan
serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. Serabut-serabut ini
kemudian memasuki pons, serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang
dan serebelum.
9)SARAF GLOSOFARINGEUS (N. IX)
Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan
asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut, saraf
glosofaringeus mempunyai dua ganglion, yaitu ganglion intrakranialis superior
dan ekstrakranialis inferior. Setelah melewati foramen, saraf berlanjut antara
arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. Di
antara otot ini dan otot stiloglosal, saraf berlanjut ke basis lidah dan
mempersarafi mukosa faring, tonsil dan sepertiga posterior lidah.
10)SARAF VAGUS (N. X)
Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion
superior atau jugulare dan ganglion inferior atau nodosum, keduanya terletak
pada daerah foramen jugularis, saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan
abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus, jantung dan paru-paru.
11)SARAF ASESORIUS (N. XI)S
araf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis.
Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak
dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang
mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius, otot
sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius
memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.
12)SARAF HIPOGLOSUS (N. XII)
Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada
setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan
trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi
otot lidah yaitu otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.
PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS..
Saraf Olfaktorius (N. I)Saraf ini tidak diperiksa secara
rutin, tetapi harus dikerjakan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa
pengecapan dan penciuman, kalau penderita mengalami cedera kepala sedang atau
berat, dan atau dicurigai adanya penyakit-penyakit yang mengenai bagian basal
lobus frontalis.Untuk menguji saraf olfaktorius digunakan bahan yang tidak
merangsang seperti kopi, tembakau, parfum atau rempah-rempah. Letakkan salah
satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung orang tersebut
sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya.
Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhidunya bahan tersebut
dan kalau mungkin mengidentifikasikan bahan yang di hidu.
b.Saraf Optikus (N. II)Pemeriksaan meliputi penglihatan
sentral (Visual acuity), penglihatan perifer (visual field), refleks pupil,
pemeriksaan fundus okuli serta tes warna.i. Pemeriksaan penglihatan sentral
(visual acuity)Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan,
dan gerakan tangan.Kartu snellenPada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam
meter antara pasien dengan tabel, jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas,
pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal bila
baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus
6/6)Jari tanganNormal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa
melihat pada jarak 2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60.
Gerakan tanganNormal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak
2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih
1/310.
ii. Pemeriksaan Penglihatan PeriferPemeriksaan penglihatan
perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan
penglihatan mulai dair mata hingga korteks oksipitalis.Penglihatan perifer
diperiksa dengan tes konfrontasi atau dengan perimetri / kompimetri.Tes
KonfrontasiJarak antara pemeriksa – pasien : 60 – 100 cmObjek yang digerakkan
harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut.Objek yang digunakan (2 jari
pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang kahardan kiri
(lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup
dan mata yang diperiksa harus menatap lururs kedepan dan tidak boleh melirik
kearah objek tersebut.Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus
normal.Perimetri / kompimetriLebih teliti dari tes konfrontasiHasil pemeriksaan
di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu.
iii. Refleks PupilSaraf aferen berasal dari saraf optikal
sedangkan saraf aferennya dari saraf occulomotorius.Ada dua macam refleks
pupil.Respon cahaya langsungPakailah senter kecil, arahkan sinar dari samping
(sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah
salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil
dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang
disinari akan mengecil.
Respon cahaya konsensualJika pada pupil yang satu disinari
maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama.
iv. Pemeriksaan fundus occuli (fundus kopi)Digunakan alat
oftalmoskop. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat diarahkan kepada
fundus, kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu pemeriksaan fundus. Bila
retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus optikus. Caranya adalah
dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke arah diskus. Semua
vena-vena ini keluar dari diskus optikus.
v. Tes warnaUntuk mengetahui adanya polineuropati pada n.
optikus.
c.Saraf okulomotoris (N. III)Pemeriksaan meliputi ; Ptosis,
Gerakan bola mata dan Pupil1. PtosisPada keadaan normal bila seseorang melihat
ke depan maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama
secara bilateral. Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata memotong iris
lebih rendah dari pada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepal ke
belakang / ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis mata
secara kronik pula.
2.Gerakan bola mata.Pasien diminta untuk melihat dan
mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial, atas, dan bawah, sekligus
ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya
nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah
dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi.
3.PupilPemeriksaan pupil meliputi :i.Bentuk dan ukuran
pupilii.Perbandingan pupil kanan dan kiri pupil sebesar 1mmÆPerbedaan masih
dianggap normaliii. Refleks pupilMeliputi pemeriksaan :1.Refleks cahaya
langsung (bersama N. II)2.Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N.
II)3.Refleks pupil akomodatif atau konvergensi
Bila seseorang melihat benda didekat mata (melihat hidungnya
sendiri) kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Gerakan kedua bola mata
ini disebut konvergensi. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua
pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh
memandang 15±jauh dan disuruh memfokuskan matanya pada suatu objek diletakkan
pada jarak cm didepan mata pasien dalam keadaan normal terdapat konstriksi pada
kedua pupil yang disebut reflek akomodasi.
d.Saraf Troklearis (N. IV)Pemeriksaan meliputi1.gerak mata
ke lateral bawah2.strabismus konvergen3.diplopia
e.Saraf Trigeminus (N. V)Pemeriksaan meliputi; sensibilitas,
motorik dan refleks1. SensibilitasAda tiga cabang sensorik, yaitu oftalmik,
maksila, mandibula. Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut
dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain. Mula-mula tes dengan
ujung yang tajam dari sebuah jarum yang baru. Pasien menutup kedua matanya dan
jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit, pasien ditanya apakah terasa tajam
atau tumpul. Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul.
Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul harus digambar dan pemeriksaan
harus di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa
tajam. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa
tajam. Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati
puncak kepala. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila
mencapai dermatom C2. Temperatur tidak diperiksa secara rutin kecuali
mencurigai siringobulbia, karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada
keadaan hilangnya sensasi nyeri, pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan
tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Pasien
disuruh mengatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya.
2.MotorikPemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya
atrofi otot-otot temporalis dan masseter. Kemudian pasien disuruh mengatupkan
giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula.
Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan
pertahankan tetap terbuka sedangkan pemeriksa berusaha menutupnya. Lesi
unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang
lemah (yang terkena).
3. RefleksPemeriksaan refleks meliputiRefleks
korneaa.LangsungPasien diminta melirik ke arah laterosuperior, kemudian dari
arah lain kapas disentuhkan pada kornea mata, misal pasien diminta melirik
kearah kanan atas maka kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya
pada mata yang lain. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks
tersebut kanan dan kiri saraf aferen berasal dari N. V tetapi eferannya
(berkedip) berasal dari N.VII.b.Tak langsung (konsensual)Sentuhan kapas pada
kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya
kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya
konsensual, yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau
eferen).Refleks bersin (nasal refleks)Refleks masseterUntuk melihat adanya lesi
UMN (certico bultar) penderita membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar)
kemudian dagu diberi alas jari tangan pemeriksa diketuk mendadak dengan palu
refleks. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif
lemah yaitu penutupan mulut ringan. Sebaliknya pada lesi UMN akan terlihat
penutupan mulut yang kuat dan cepat.
f.Saraf abdusens (N. VI)Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke
lateral, strabismus konvergen dan diplopia tanda-tanda tersebut maksimal bila
memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal
dan sejajar satu sama lain.
g.Saraf fasialis (N. VII)Pemeriksaan saraf fasialis
dilakukan saat pasien diam dan atas perintah (tes kekuatan otot) saat pasien
diam diperhatikan :Asimetri wajahKelumpuhan nervus VIII dapat menyebabkan
penurunan sudut mulut unilateral dan kerutan dahi menghilang serta lipatan
nasolabial, tetapi pada kelumpuhan nervus fasialis bilateral wajah masih tampak
simetrikGerakan-gerakan abnormal (tic facialis, grimacing, kejang
tetanus/rhisus sardonicus tremor dan seterusnya ).Ekspresi muka (sedih,
gembira, takut, seperti topeng)- Tes kekuatan otot1.Mengangkat alis, bandingkan
kanan dan kiri.2.Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan
pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan
kiri.3.Memperlihatkan gigi (asimetri)4.Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi
ujung bibir)5.meniup sekuatnya, bandingkan kekuatan uadara dari pipi
masing-masing.6.Menarik sudut mulut ke bawah.- Tes sensorik khusus (pengecapan)
2/3 depan lidah)Pemeriksaan dengan rasa manis, pahit, asam, asin yang
disentuhkan pada salah satu sisi lidah.- HiperakusisJika ada kelumpuhan N.
Stapedius yang melayani otot stapedius maka suara-suara yang diterima oleh telinga
pasien menjadi lebih keras intensitasnya.
h.Saraf Vestibulokokhlearis (N. VIII)Ada dua macam
pemeriksaan yaitu pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi
vestibuler1)Pemeriksaan pendengaranInspeksi meatus akustikus akternus dari
pasien untuk mencari adanya serumen atau obstruksi lainnya dan membrana timpani
untuk menentukan adanya inflamasi atau perforasi kemudian lakukan tes
pendengaran dengan menggunakan gesekan jari, detik arloji, dan audiogram.
Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli konduksi dipakai
tes Rinne dan tes Weber.Tes RinneGarpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula
dilakukan pada prosesus mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak
lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus
oksterna. Dalam keadaan norma anda masih terdengar pada meatus akustikus
eksternus. Pada tuli saraf anda masih terdengar pada meatus akustikus
eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif.
Tes WeberGarpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah
dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada
tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi
tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal.
2)Pemeriksaan Fungsi VestibulerPemeriksaan fungsi vestibuler
meliputi : nistagmus, tes romberg dan berjalan lurus dengan mata tertutup, head
tilt test (Nylen – Baranny, dixxon – Hallpike) yaitu tes untuk postural
nistagmus.
i.Saraf glosofaringeus (N. IX) dan saraf vagus (N.
X)Pemeriksaan N. IX dan N X. karena secara klinis sulit dipisahkan maka
biasanya dibicarakan bersama-sama, anamnesis meliputi kesedak / keselek
(kelumpuhan palatom), kesulitan menelan dan disartria(khas bernoda hidung /
bindeng). Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan senter perhatikan
apakah terdapat pergeseran uvula, kemudian pasien disuruh menyebut “ah” jika
uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya kelumpuhan nervus X
unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang sehat.Sekarang
lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah komponen sensorik
dan nervus X adalah komponen motorik). Sentuh bagian belakang faring pada
setiap sisi dengan spacula, jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah ia
merasakan sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Dalam
keadaaan normal, terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Jika
konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan
nervus X, kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara
serak (lesi nervus laringeus rekuren unilateral), kemudian disuruh batuk , tes
juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. IX).
j.Saraf Asesorius (N. XI)Pemeriksaan saraf asesorius dengan
cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot
trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah, kemudian pasien disuruh
memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa
otot sternokleido mastoideus.k.Saraf Hipoglosus (N. XII)Pemeriksaan saraf
Hipoglosus dengan cara; Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut,
tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan
tidak ritmik). Fasikulasi dapat unilateral atau bilateral.Pasien diminta
menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena) jika
terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral.Lesi UMN dari N XII
biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Kombinasi lesi UMN
bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar.
II.4. KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS
CRANIALIS.
1)Saraf Olfaktorius. (N.I)Kelainan pada nervus olfaktovius
dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut
anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral
sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman.Proses penciuman
dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian
kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat
penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan
mengakibatkan anosmia.Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman
berupa:Agenesis traktus olfaktoriusPenyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan
tumor nasalSembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada
rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat
hilang untuk seterusnya.Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina
feribrosa.Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre
coup”, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia
unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari
trauma vegio orbital.Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan
peradangan selaput otak didekatnya.Tumor garis tengah dari fosa kranialis
anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat
menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan
kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga
dapat merusak penciuman.Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan
basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik).Pasien mungkin tidak menyadari bahwa
indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa
pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana
yang penting untuk pengecapan menjadi hilang.
2)Saraf Optikus (N.II)Kelainan pada nervus optikus dapat
menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi
gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras
penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi
langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu
kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila
terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan.Orang yang buta
kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang, istilah untuk buta ialah anopia atau
anopsia. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi, maka buta semacam itu
dinamakan hemiopropia.Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang
mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. Perubahan tersebut seperti
tertera pada gambar 1.Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan
oleh:
1.Trauma Kepala
2.Tumor serebri (kraniofaringioma, tumor hipfise,
meningioma, astrositoma)
3.Kelainan pembuluh darahMisalnya pada trombosis arteria
katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. Gambaran
kliniknya berupa buta ipsilateral.
4.Infeksi.Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal
sebagai berikut:a.Papiledema (khususnya stadium dini)Papiledema ialah sembab
pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi,
dapat disebabkan oleh lesi desak ruang, antara lain hidrocefalus, hipertensi
intakranial benigna, hipertensi stadium IV. Trombosis vena sentralis
retina.b.Atrofi optikDapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus,
glaukoma, iskemia, famitral, misal: retinitis pigmentosa, penyakit leber,
ataksia friedrich.c.Neuritis optik.
3)Saraf Okulomotorius (N.III)Kelainan berupa paralisis
nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial, ke
atas dan lateral, kebawah dan keluar. Juga mengakibatkan gangguan fungsi
parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi, sehingga reaksi pupil akan
berubah. N. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata,
sehingga kalau lumpuh, kelopak mata akan jatuh ( ptosis)Kelumpuhan okulomotorius
lengkap memberikan sindrom di bawah ini:1.Ptosis, disebabkan oleh paralisis
otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis
okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis.2.Fiksasi posisi mata, dengan pupil
ke arah bawah dan lateral, karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus
lateral dan oblikus superior.3.Pupil yang melebar, tak bereaksi terhadap cahaya
dan akomodasi.Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut, kerusakan
biasanya terjadi di perifer, paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan
melibatkan nukleus okulomotorius.Penyebab kerusakan diperifer meliputi; a).
Lesi kompresif seperti tumor serebri, meningitis basalis, karsinoma nasofaring
dan lesi orbital. b). Infark seperti pada arteritis dan diabetes.
4)Saraf Troklearis (N. IV)Kelainan berupa paralisis nervus
troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan
kemedial.Ketika pasien melihat lurus kedepan atas, sumbu dari mata yang sakit
lebih tinggi daripada mata yang lain. Jika pasien melihat kebawah dan ke
medial, mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali
paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering
disebabkan oleh trauma, biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks.
5)Saraf Abdusens (N. VI)Kelainan pada paralisis nervus
abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral, ketika pasien
melihat lurus ke atas, mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke
lateral, ketika pasien melihat ke arah nasal, mata yang paralisis bergerak ke
medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior.Jika ketiga saraf
motorik dari satu mata semuanya terganggu, mata tampak melihat lurus keatas dan
tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap
cahaya (oftalmoplegia totalis). Paralisis bilateral dari otot-otot mata
biasanya akibat kerusakan nuklear. Penyebab paling sering dari paralisis
nukleus adalah ensefelaitis, neurosifilis, mutiple sklerosis, perdarahan dan
tumor.Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah
meningitis, sinusistis, trombosis sinus kavernosus, anevrisma arteri karotis
interva atau arteri komunikantes posterior, fraktur basis kranialis.
6)Saraf Trigeminus (N. V)Kelainan yang dapat menimbulkan
gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior
dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea, dan rasa baal pada wajah sebagai
tanda-tanda dini.Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia
trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat
sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus.
Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal
dicetuskan oleh pembuluh darah. Paling sering oleh arteri serebelaris superior
yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin.Kelainan
berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus,
yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. Karena tegangan abnormal yang kuat
pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya.
7)Saraf Fasialis (N. VII)Kelainan yang dapat menyebabkan
paralis nervus fasialis antara lain:Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi
vaskuler.Lesi LMN :Penyebab pada pons, meliputi tumor, lesi vaskuler dan
siringobulbia.Pada fosa posterior, meliputi neuroma akustik, meningioma, dan
meningitis kronik.Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy,
fraktur, sindroma Rumsay Hunt, dan otitis media.Penyebab kelumpuhan fasialis
bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre, mononeuritis multipleks, dan
keganasan parotis bilateral.Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa
kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda
timpani atau nervus lingualis, tetapi ini sangat jarang.
Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan
otot-otot wajah, kelopak mata tidak bisa ditutup, gangguan air mata dan ludah,
gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran
(hiperakusis). Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan
otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi, ditandai dengan hilangnya lipatan
hidung bibir, sudut mulut turun, bibir tertarik kesisi yang sehat. Pasien akan
mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Air ludah akan keluar dari sudut
mulut yang turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit,
terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Refleks kornea pada
sisi sakit tidak ada.
8)Saraf VestibulokoklearisKelainan pada nervus vestibulokoklearis
dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo).Kelainan yang
dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain:Gangguan pendengaran,
berupa :Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor, misal neuroma akustik.
Degenerasi misal presbiaksis. Trauma, misal fraktur pars petrosa os temporalis,
toksisitas misal aspirin, streptomisin atau alkohol, infeksi misal, sindv
rubella kongenital dan sifilis kongenital.Tuli konduktif dapat disebabkan oleh
serumen, otitis media, otoskleroris dan penyakit Paget.Gangguan Keseimbangan
dengan penyebab kelainan vestibulerPada labirin meliputi penyakit meniere,
labirinitis akut, mabuk kendaraan, intoksikasi streptomisin.Pada vestibuler
meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis.Pada batang
otak meliputi lesi vaskuler, tumor serebelum atau tumor ventrikel IV
demielinisasi.Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia.
9)Saraf Glosofaringeus (N. IX) dan Saraf Vagus (N.
X)Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. IX dan N. X dapat
mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi
paru.Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi,
sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa
berakibat pada kematian. Gangguan nervus IX dan N. X menyebabkan persarafan
otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Cairan atau makanan tidak dapat
ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke
paru-paru.Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain :Lesi batang otak
(Lesi N IX dan N. X)Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata)Pasca
operasi trepansi serebelumPasca operasi di daerah kranioservikal
10)Saraf Asesorius (N. XI)Gangguan N. XI mengakibatkan
kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot
sterokleidomastoideus). Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta
kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral.Kelainan pada nervus
asesorius dapat berupa robekan serabut saraf, tumor dan iskemia akibatnya persarafan
ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu.
11)Saraf Hipoglossus (N. XII)Kerusakan nervus hipoglossus
dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak, kelainan pembuluh darah, tumor
dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses
pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan
makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan
nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang.Pada kerusakan N. XII pasien
tidak dapat menjulurkan, menarik atau mengangkat lidahnya. Pada lesi
unilateral, lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. Saat
istirahat lidah mem

No comments:
Post a Comment
Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH