KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan rahmatNya kami dapat
melakukan praktek Mata Ajaran Keperawatan Gerontik di Panti Sosial Tresna
Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang sejak tanggal 10-15 Januari 2011 dengan
baik. Sebagai akhir dari praktek keperawatan lansia di Panti Sosial Tresna
Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang, kami telah menyusun laporan akhir asuhan
keperawatan kelompok lanjut usia di wisma Mawar dalam bentuk makalah.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada :
1.
Ibu Ns. Nita Puspita selaku Koordinator
Mata Ajaran Keperawatan Gerontik yang telah memberikan bimbingan dan arahan
selama kami berada di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe
Karawang.
2.
Bapak Ade, S.Sos selaku Kepala Panti Sosial
Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang yang telah memberikan kesempatan
untuk memberikan asuhan keperawatan lansia di wisma-wisma Panti Sosial Tresna
Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
3.
Para dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingannya selama kami di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya
Telukjambe Karawang.
4.
Para petugas panti yang telah membantu
kami selama di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
5.
Orang tua dan teman-teman yang telah
memberikan semangat, kasih sayang dan dukungan morilnya yang sangat berarti
bagi kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Karawang, 14 Januari 2011
Kelompok Wisma Melati
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Lansia adalah seseorang yang
berumur 60 tahun keatas (UU No. 13 Tahun 1998). Sejalan dengan program keluarga
berencana yang telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, pada tahun
2000 jumlah lansia berdasarkan sensus penduduk adalah sekitar 7,5% dari jumlah
penduduk Indonesia atau sekitar 15,9 juta orang berusia diatas 60 tahun (BPS
dan SUPAS 1995 dan 2000). Didalam kehidupan nasional, usia lanjut dapat
merupakan sumber daya yang bernilai karena pengetahuan, pengalaman hidup serta
kasrifan yang dimiliki yang dapat dimanfaatkan unutk upaya peningkatan mutu
kehidupan keluarga dan masyarakat.
Seorang yang menua akan mengalami
perubahan-perubahan baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Perubahan ini
akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk kesehatan yang memerlukan
perhatian khusus dimana lansia merupakan salah satu kelompok rawan dalam
keluarga karena kepekaan dan kerentanannya yang tinggi terhadap gangguan
kesehatan. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang komprehensif perlu dilakukan
untuk mempertahankan dan maninggikan derajat kesehatan lansia sehinngga tetap
mejadi produktif sesuai kemampuan.
Berdasarkan hasil pengkajian
kelompok khususnya di Wisma Melati didapatkan data yang berhubungan dengan
masalah kesehatan lansia, yaitu sebanyak 50% lansia dengan masalah kesehatan
rematik, 12,5% lansia dengan DM, dan 27,5% lansia mengalami penglihatan kabur.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan pengkayaan tentang
perubahan-peruabahan yang terjadi pada lansia yang dapat menyebabkan masalah
kesehatan.
2. Tujuan Khusus
a.
Mampu mengidentifikasi
perubahan-peruabahan fisik, mental, dan spiritual yang terjadi pada lansia
khususnya di Wisma Melati Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya
Karawang.
b.
Mampu mengidentifikasi masalah-masalah
kesehatan yang terjadi akibat perubahan-perubahan pada lansia di Wisma Melati
Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.
c.
Mampu melakukan asuhan keperawatan
terkait dengan masalah kesehatan yang telah teridentifikasi.
d.
Mampu melaporkan keberhasilan asuhan
keperawatan yang telah dilakukan selama praktek di Wisma Melati Rumah
Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.
C. Metode
Telaahan
Penulisan laporan asuhan keperawatan
kelompok gerontik ini menggunakan metode deskriktif yaitu metode yang menggambarkan keadaan yang lebih
nyata, menganalisa dan menguraikannya dengan pendekatan studi kasus, dimana
kelompok mengambil satu kasus kelolaan kemudian kelompok memberikan asuhan
keperawatan sesuai dengan permasalahan yang ada. Adapaun tehnik-tehnik yang
dipergunakan dalam mengumpulkan data diantaranya :
1.
Observasi / Pengamatan
2.
Wawancara
3.
Studi Kepustakaan
4.
Pemeriksaan Fisik
5.
Dokumentasi Keperawatan, dan
6.
Asuhan Keperawatan Langsung
D.
Sistematika Penulisan
Studi analisa situasi ini terdiri dari
empat BAB yang tersusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan
penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan
BAB II Tinjauan
teoritis meliputi konsep penuaan
BAB III Tinjauan
kasus dan pembahasan
BAB IV Penutup
meliputi kesimpulan dan saran
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.Tinjauan Teoritis
Teori
biologis tentang penuaan menyatakan bahwa proses penuaan secara biologi adalah
alami, tidak dapat dihindari, irreversible, dan berkembang sesuai waktu. Proses
penuaan ini membawa perubahan-perubahan yang bervariasi pada setiap individu.
Teori wear and tear menyatakan bahwa
setiap individu mengalami proses penuaan dan kematian karena jaringan-jaringan
tubuh tidak selamanya dapat memperbaiki diri. Perubahan fisik yang terjadi
ditandai dengan terjadinya penurunan sel-sel otak, penurunan rasa dan penciuman,
kulit keriput, rambut memutih, penglihatan kabur, pendengaran berkurang, tulang
menjadi rapuh, gigi ompong, mudah lelah, kelancaran aliran darah menurun,
gerakan menjadi lamban, serta fungsi ginjal, hati dan jantung bekerja lebih
keras. Perubahan pada pikiran dan mental lansia diantaranya penurunan daya
ingat, mudah sedih dan tersinggung, mudah frustasi, merasa kesepian serta takut
kehilangan kemandirian. Sedangkan perubahan sosial pada lansia meliputi
kehilangan pekerjaan, pasangan dan anak serta menerima kehadiran cucu. Proses
tersebut dapat dipercepat oleh faktor-faktor seperti stress, merokok serta diet
yang buruk.
Terkait
dengan perubahan fisik pada lansia khususnya sistem pencernaan dimana lansia
mengalami penurunan dalam produksi air liurnya, penurunan dalam produksi cairan
lambung dan gerak peristaltik lambung serta saluran pencernaan lainnya yang
juga menurun, didukung oleh adanya penurunan pada kepekaan terhadap rangsang
terutama penciuman dan rasa maka lansia beresiko tinggi untuk mengalami gangguan
pemenuhan nutrisi.
Nutrisi
atau disebut juga zat gizi makanan adalah zat-zat yang terkandung di dalam
makanan yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. Terdapat tiga
manfaat gizi yaitu sebagai zat tenaga yang terdapat pada makanan-makanan pokok
seperti nasi, jagung dan kentang; sebagai zat pengatur yang terdapat pada
sayuran dan buah-buahan; serta zat pembangun yang terdapat pada lauk pauk
seperti daging, ikan, tahu dan tempe. Komposisi yang diperlukan adalah
karbohidrat sebanyak 60-70 %, protein 10-15 % dan lemak 20-25 %. Komposisi
tersebut diperlukan untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang ideal
pada lansia.
Seseorang
dikatakan mengalami perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yaitu jika
seseorang dalam keadaan tidak mengalami puasa atau yang beresiko mengalami
penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan makanan yang tidak
adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik
(Carpenito, 1995 hal 252). Tolak ukur yang dapat dipakai sebagai pedoman bahwa
seseorang memiliki masalah perubahan nutrisi adalah dengan mengetahui berat
badan yang ideal. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan rumus Brocca yang
dimodifikasi yaitu BB ideal = 90% x (TB dalam cm – 100) x 1 kg. Sedangkan penghitungan
kebutuhan kalori bagi lansia adalah lansia dengan usia 60-69 tahun adalah 25-30
kalori/kg BB ideal dikurangi 10 %; sedangkan lansia dengan usia 70 tahun,
dikurangi 20 %.
Faktor-faktor
risiko untuk masalah nutrisi yaitu riwayat diet termasuk didalamnya adalah
kesulitan menelan/mengunyah, pemasukan makanan yang tidak adekuat, pembatasan
diet, tidak ada pemasukan 10 hari/ lebih, seseorang dengan terapi intra vena,
anggaran makanan yang tidak adekuat, fasilitas “penyiapan” makanan yang tidak
adekuat, fasilitas “penyimpanan” makanan yang tidak adekuat, ketidakmampuan
fisik dan lansia yang makan sendiri.
Akibat
yang dapat terjadi dimana seseorang mengalami gangguan nutrisi diantaranya
adalah mudah terserang penyakit, mudah lelah, proses penuaan lebih cepat,
menambah biaya berobat dan daya pikir yang semakin berkurang. Dengan
memperhatikan akibat dari gangguan nutrisi tersebut maka perlu dilakukan
upaya-upaya pencegahan yang diantaranya adalah dalam penyusunan menu. Terdapat
lima prinsip dalam menyusun menu pada lansia yaitu mengurangi makanan berlemak,
mengurangi garam, mengurangi gula, menu bervariasi, banyak vitamin dan serat
serta makanan yang mudah dicerna.
B.OBAT TRADISIONAL
·
Reumatik:
Cara 1
Bahan:
Cengkeh
Merica
Daun
Belimbing wuluh
Cuka
Alat: mangkuk
Cara pembuatan : daun belimbing
wuluh, merica, cengkeh di tumbuk halus sehingga menjadi lembut seperti bubur,
ditambah cuka secukupny. Lalu tumbuk kembali bahan. Setelah itu bahan yang
sudah dihaluskan di oleskan pada lutut da n persendian yang lain.
Cara 2
Alat dan Bahan : Jahe
Minyak kelapa
Parutan
Mangkuk
Cara pembuatan : Jahe di cuci barsih
lalu diparut, dan hasil parutan ditambah minyak kelapa secukupnya. Kemudian di
poleskan/dibalurkan pada daerah yang sakit.
Cara 3
Alat dan Bahan : 5 butir cengkah
200 gr ubi jalar merah
5 biji pala
1 gr kayu manis
10 butir merica
5 kapulaga
Cara pembuatan : rebus semua bahan
dengan 1500cc air hingga tersisa 500cc,
kemudian minum air rebusan tadi dan ubi jalarnya dimakan.
·
Katarak :
Alat dan Bahan: 5 lembar kembang
teleng
Air
hangat
Alat : mangkuk
Cara pembuatan : simpan air hangat
pada mangkuk, masukan kembang teleng pada mangkuk yang berisi air hangat.
Tunggu sampai warna memudar menjadi kebiruan, kemudian tempelkan kedua mata
pada air rebusan kembang teleng.
·
Gastritis
Cara 1
Alat dan Bahan: Kencur
air hangat
madu
pisang raja
Parutan
Saringan
Gelas
Cara Pembuatan: Kencur di parut
secukupnya kemudian setelah itu hasil parutan tadi diperas dengan air hangat
hingga mencapai setengah gelas.
Diminum 3 kali sehari, jika terasa
mual saat meminum bisa ditambahkan madu atau pisang raja
Cara 2
Alat dan Bahan: Kacang hijau ¼ kg
Kompor
Katel
tumbukan, dan
gelas
Cara pembuatan: Kacang hjau dicuci bersih,
kemudian dijemue hingga kering setelah itu di goring tanpa menggunakan minyak/sangria
sehingga terlihat matang.
Setelah matang angkat dan tumbuk
kacang hingga halus. Hasil tumbukan/bubuk kacang hijau tadi yang akan dijadikan
sebagai ramuan.
Setiap hari gunakan satu sendok makan
bubuk kacang hijau tadi dan dicampur dengan air putih /disedu dalam satu gelas
minum hingga sakit hilang.
·
hipertensi
Cara 1
Alat dan Bahan: Mengkudu
Air hangat
Bleder
Saringan
Cara pembuatan: Mengkudu diblender
dengan air hangat kemudian di saring dalam satu gelas dan diminum tiga kali
dalam satu hari.
Cara 2
Alat dan
Bahan: 5 Lembar Daun salam
Cara Pembuatan : 5 lembar daun salam
direbus hingga mendidih kemudian air nya di minum 3 kali sehari.
BAB III
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK
DI WISMA ANGGREK PANTI SOSIAL TERSNA WREDA
BUDHI DAYA TELUK JAMBE KARAWANG.
Nama
Kelompok :
Kelompok III
Tingkat : III
Lahan Praktik :
Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda
Budhi Daya
Teluk
Jambe Karawang
Tanggal
Pengkajian : 10 Januari 2011
Nama Wisma :
Melati
Pimpinan Panti : Drs. Sirro Judin, M.M.
Dikelola Oleh :
Departemen Sosial RI
A. PENGKAJIAN
1. Karakteristik Penghuni
a.
Berdasarkan umur
|
Karakteristik umur
|
Perempuan
|
Laki-laki
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
<
60
60 –
70
71 –
90
>
90
|
-
3
2
-
|
-
2
1
-
|
-
5
3
-
|
0 %
62,5 %
37,5 %
-
|
|
Jumlah
|
9
|
-
|
9
|
100 %
|
b.
Berdasarkan pendidikan
|
Tingkat
Pendidikan
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD/sederajat
Tamat SMP/sederajat
Tamat SMA
|
4
3
-
-
1
|
50 %
37,5 %
-
-
12,5 %
|
|
Jumlah
|
8
|
100
|
c.
Berdasarkan agama
|
Agama
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
Muslim
Non Muslim
|
8
-
|
100
-
|
|
Jumlah
|
8
|
|
2. Data khusus
a.
Biologis
1)
Keadaan kesehatan
|
5 Besar Keluhan Lansia
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
Nyeri
persendian
Gangguan
fungsi pendengaran
Penglihatan
kabur
Tidak
senang berinteraksi
Lain -
lain
|
6
3
4
1
1
|
40 %
20 %
26,6 %
5,65 %
5,65 %
|
|
Jumlah
|
15
|
100 %
|
Dari hasil
pengkajian didapatkan beberapa lansia yaitu sekitar 6 orang mengeluh pegal dan
nyeri pada daerah pinggang, tangan dan kaki. Biasanya mereka merasa pegal dan
nyeri pada saat istirahat (tidur),
sebagian lansia mengatakan pegal dan nyeri tersebut saat atau setelah melakukan
aktivitas.
2)
Pola makan dan minum
Frekuensi makan 3 x sehari. Para lansia biasa makan
berkumpul di ruang TV, tetapi ada sebagian lansia yang makan di kamar
masing-masing. Sekitar 5- 6 orang lansia yang makan dikamar mereka
masing-masing dengan alasan lebih nyaman makan dikamar. Menu makanan pagi hari
nasi, sayur, tempe. Makan siang terdiri dari nasi, sayur, tempe dan telur. Menu
makan sore sama dengan dengan menu makan siang. Para lansia kadang-kadang
membeli makanan sendiri di luar seperti roti, dan lain-lain setiap sore atau
pagi, kadang-kadang para lansia mendapat makanan tambahan (snack) seperti bubur
kacang, roti, gorengan, buah-buahan.
Sebagian lansia minum sebanyak 4 – 6 mug kecil dalam
sehari (1 mug kecil = 200 ml). Sekitar 2
– 3 lansia yang memakai mug besar dan dalam sehari mereka minum 1 – 2 mug (1
mug besar = 600 ml). Hasil observasi kelompok di dapat mukosa bibir dan kulit
lansia lembab.
3)
Pola tidur
Para lansia masuk kamar tidur sekitar pukul 21.00 WIB
setelah menonton acara TV. Namun ada sebagian lasia ada yang langsung masuk
kamar setelah melaksanakan sholat Isya sekitar pukul 20.00 WIB. Kegiatan yang
dilakukan sebelum tidur diantaranya menonton TV dan mengaji. Sebagian besar
lansia bangun jam 04.00 WIB pagi untuk bersiap-siap melaksanakan sholat shubuh
berjama’ah. Tetapi ada 1 – 2 orang yang tidak melaksanakan sholat
berjamaah karena kondisi lansia yang tidak memungkinkan.
Jika dijumlahkan, jumlah jam tidur lansia adalah 7 – 8
jam dalam sehari.
4)
Kebersihan diri
Penampilan sebagian besar penghuni wisma Melati tampak
bersih dan rapih. Setiap lansia mandi dan gosok gigi 2 – 3 kali dalam satu hari
dilakukan terutama jika mereka akan melaksanakan sholat. Tercium bau mulut saat
berkomunikasi dengan beberapa lansia terdapat kotoran pada rangkaian gigi dan
warna gigi yang menguning. Lansia keramas 2 -3 kali setiap minggu dengan
menggunakan shampo, baju klien ganti 2 hari sekali.
b.
Psikologis dan sosial
1)
Kebiasaan buruk kelompok
Satu lansia mempunyai kebiasaan merokok di Wisma dan
biasa menghabiskan dua sampai tiga batang setiap hari terutama setelah selesai
makan.
2)
Keadaan emosi
Ada satu lansia yang bila di ajak bicara jawabannya tidak
sesuai tema yang sedang dibicarakan, sehingga sering kali jadi bahan tertawaan
sesama lansia.
3)
Pengambilan keputusan
Di wisma Melati tidak ada lansia yang berperan sebagai
pengambil keputusan. Masing – masing berhak menentukan yang terbaik bagi
dirinya. Bila ada anggota wisma yang sakit, maka lansia yang lain hanya
melaporkan kepada petugas wisma.
4)
Rekreasi
Kegiatan rekreasi yang dilakukan anggota wisma Melati
antara lain menonton TV, mendengarkan Radio atau bercakap – cakap di ruang
tengah. Pengurus panti mengadakan program rekreasi dalam setahun sekali dan
diikuti oleh seluruh lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna
Wredha Budhi Daya Karawang.
5)
Perilaku mencari pelayanan kesehatan
Lansia yang sakit hanya minum obat yang di berikan oleh
petugas puskesmas yang datang ke panti setiap hari kamis pagi. Jika obatnya
habis para lansia tidak mencari obat warung karena keadaan ekonomi para lansia
yang kurang, kecuali ada lansia yang sakit parah biasanya para lansia lapor ke
petugas wisma.
6)
Ketergantungan obat
Sebagian lansia yang sering menggunakan obat warung atau
jamu saat mempunyai keluhan kesehatan. Mereka merasa keluhannya berkurang
tetapi tidak mengetahui akibat kebiasaan ini pada kesehatannya. Pengaturan
minum obat selanjutnya diserahkan kepada pengurus wisma.
7)
Kecacatan
Di wisma Melati tidak ada lansia yang mengalami
kecacatan.
8)
Keadaan ekonomi
Semua lansia di wisma Melati tidak ada yang mempunyai
tunjangan pensiun, mereka hanya mendapatkan uang santunan dari panti sebesar Rp
2.500.- / minggu. Uang itu kebanyakan di simpan atau digunakan untuk membeli
kebutuhan sehari – hari.
9)
Kegiatan organisasi sosial
Sebagian besar lansia mengikuti pengajian dan senam
lansia yang diadakan di panti. Pengajian setiap hari Senin dan Rabu serta senam
setiap hari Selasa dan Jum’at.
10) Hubungan
antara anggota kelompok
Sebagian besar lansia di dalam kelompok mementingkan
kepentingan pribadi masing – masing dan cenderung membiarkan dan tidak perduli
satu sama lain. Lansia – lansia sering berkomunikasi dan terlibat dalam
interaksi kelompok.
11) Hubungan
di luar kelompok
Sebagian besar lansia menyatakan jarang berkunjung dan
berhubungan dengan lansia yang tinggal di wisma yang lain, hubungan dengan
lansia di wisma lain dilakukan melalui kegiatan pengajian dan olah raga.
12) Hubungan
dengan anggota keluarga
Tidak ada waktu khusus untuk kunjungan keluarga. Keluarga
bisa mengunjungi lansia kapan saja sesuai kebutuhan keluarga. Tetapi sebagian
lansia tidak pernah lagi di kunjungi oleh keluarga karena sanak keluarganya
sudah tidak ada.
c.
Spiritual
1)
Ketaatan beribadah
Semua lansia di wisma Melati beragama Islam dan saat menjalankan ibadah (
shalat lima waktu ) dan selalu mengikuti pengajian yang diadakan oleh panti.
Semua lansia percaya akan tibanya kematian dan lansia pasrah bila kematian
menjemput mereka.
2)
Keyakinan tentang kesehatan
Lansia percaya bahwa sakit dan sehat adalah hal yang wajar terjadi pada
manusia. Beberapa lansia sering mengeluh pegal dan nyeri, biasanya jika hal itu
terjadi mereka biasanya menggunakan minyak kayu putih atau balsem pada daerah
yang terasa sakit. Cara tersebut cukup mengurangi rasa sakit.
d.
Kultural
1)
Adat yang mempengaruhi kesehatan
Lansia di wisma semuanya berasal dari pulau jawa dan
tidak ada adat istiadat yang mempengaruhi kesehatan.
2)
Tabu – tabu
Tidak ada pantrangan budaya yang dianut oleh lansia di
wisma
e.
Keadaan lingkungan dalam
1)
Penerangan
Semua kamar umumnya mendapatkan penerangan yang cukup baik masing – masing
kamar diberi lampu lima watt. Penerangan di ruang tengah dan di pintu menuju
kamar mandi menggunakan neon 40 watt pada malam hari sebagian lampu dimatikan.
2)
Kebersihan dan kerapihan
Secara umum kondisi kamar – kamar cukup bersih dan rapi, juga ruang tamu,
kamar mandi dan wc. Setiap hari wisma dibersihkan oleh para lansia dan kamar –
kamar lansia di bersihkan oleh para lansia yang menempati kamar tersebut. Namun
lantai di wisma agak licin, terutama di depan kamar mandi. Di kamar mandi tidak
terdapat pegangan pengaman.
3)
Sirkulasi udara
Sirkulasi udara secara umum cukup baik karena di wisma terdapat cukup
jendela termasuk disetiap kamar lansia yang selalu dibuka setiap pagi selain
itu dikamar – kamar lansia terdapat cukup ventilasi.
f.
Keadaan lingkungan dan halaman
1)
Pemanfaatan halaman
Halaman wisma dimanfaatkan untuk penghijauan, para
lansia merawatnya dengan menyiramnya dan menyiangi rumput.
2)
Pembuangan air limbah
Semua limbah dari kamar mandi dan WC dialirkan melalui
saluran tertutup dan di teruskan ke sungai Citarum.
3)
Pembuangan sampah
Kebanyakan sampah di wisma adalah sampah organik,
sampah tersebut ditampung menggunakan tempat sampah dan setiap pagi diangkut ke
penampungan sampah.
4)
Sumber pencemaran
Letak wisma yang berdekatan dengan jalan raya utama
merupakan penyebab pencemaran udara dan sumber kebisingan.
B. Analisa
Data
|
Data
|
Diagnosa
Keperawatan
|
|
Data Subjektif
§
Beberapa lansia mengeluh pegal dan
nyeri pada pinggang, tangan dan kaki.
§
Mereka mengatakan belum tahu cara yang
tepat untuk mengatasi pegal dan nyeri.
§
Mereka mengatakan pegal dan nyeri yang
dirasakan muncul pada saat istirahat (tidur) sebagian lansia mengatakan pegal
dan nyeri tersebut saat atau setelah melakukan aktivitas.
§
Jika timbul nyeri mereka menggunakan
minyak kayu putih atau balsem pada daerah yang pegal atau nyeri. Cara tersebut
cukup mengurangi rasa sakit atau pegal yang dialami.
Data Objektif
§
6 orang dari 8 orang lansia di Wisma
Melati RPSTW Budhi Daya menderita rematik atau 40%.
|
Gangguan
rasa nyaman : nyeri sendi di wisma Melati RPSTW Budhi Daya b.d kurangnya motivasi
: proses degenerasi/penurunan fungsi muskuluskeletal dimanifestasikan dengan
36% lansia mengeluh nyeri dan pegal pada daerah pinggang dan ekstremitas
|
|
Data Subjektif
§
Sekitar 3 orang lansia mengeluh
penglihatannya kabur atau sekitar 20%, 2 orang menggunakan kaca mata.
Data Objektif
§
Di kamar mandi tidak terdapat pegangan
pengaman.
§ Lantai di wisma agak licin.
|
Resiko
cedera pada lansia di wisma Melati RPSTW Budhi Daya Telukjambe Karawang b.d
kurang pengetahuan tentang gangguan penglihatan (penglihatan kabur) dan cara
perawatannya dengan dimanifestasikan 21,4% lansia mengalami penglihatan
kabur.
|
|
Data Subjektif
§
4 orang lansia di wisma anggrek RPSTW
Budhi Daya mengeluh penglihatannya berkurang, sekitar 26,6 %.
Data Objektif
§
Pada pemeriksaan fisik didapatkan data
adanya lingkaran putih pada lensa mata.
|
Perubahan
sensori perseptual Visual pada lansia di wisama Melati RPSTW Budhi Daya
Telukjambe Karawang b.d kekeruhan pada lensa mata dimanifestasikan 26,6%
lansia mengalami masalah katarak
|
C.
DAFTAR MASALAH
Dari keluhan – keluhan diatas didapatkan maslah
keperawatan
1.
Gangguan rasa nyaman : Nyeri sendi
2.
Risiko cedera
3.
Perubahan sensori perseptual ( visual )
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Lansia adalah seseorang yang berumur 60
tahun keatas (UU No. 13 Tahun 1998). Sejalan dengan program keluarga berencana
yang telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, pada tahun 2000 jumlah
lansia berdasarkan sensus penduduk adalah sekitar 7,5% dari jumlah penduduk
Indonesia atau sekitar 15,9 juta orang berusia diatas 60 tahun (BPS dan SUPAS
1995 dan 2000). Didalam kehidupan nasional, usia lanjut dapat merupakan sumber
daya yang bernilai karena pengetahuan, pengalaman hidup serta kasrifan yang
dimiliki yang dapat dimanfaatkan unutk upaya peningkatan mutu kehidupan
keluarga dan masyarakat.
Seorang yang menua akan mengalami
perubahan-perubahan baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Perubahan ini
akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk kesehatan yang memerlukan
perhatian khusus dimana lansia merupakan salah satu kelompok rawan dalam
keluarga karena kepekaan dan kerentanannya yang tinggi terhadap gangguan
kesehatan. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang komprehensif perlu dilakukan
untuk mempertahankan dan maninggikan derajat kesehatan lansia sehinngga tetap
mejadi produktif sesuai kemampuan.
Hasil pengamatan kami selama praktek keperawatan
gerontik di RPSTW Budhi Daya Karawang, masalah keperawatan yang sering timbul
pada penghuni wisma (lansia) adalah gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan
dengan proses degenerasi (rheumatik) dan resiko cedera berhubungan dengan
penurunan fungsi penglihatan (katarak). Dan untuk mengobati masalah tersebut di
usahakan tidak dengan pengobatan medis tapi dengan pengobatan tradisional
karena masalah tersebut hubungannya dengan proses penuaan (kecuali parah).
B.
Rekomendasi
Dalam penanganan masalah pada lansia di
panti umumnya sudah baik, namun demi tercapainya kesehatan dan kesejahteraan
para penghuni kelompok ingin menyampaikan beberapa masukan, antara lain :
1.
Agar pihak panti memfasilitasi para
lansia untuk menanam bahan-bahan pengobatan alternatif.
2.
Memperhatikan keselamatan para lansia,
terutama di dalam wisma. Membuan pegangan lansia untuk berjalan, terutama
menuju dan dalam kamar mandi.
3.
Tidak membiarkan para lansia keluar
sendiri, karena posisi panti dekat dengan jalan raya.
4.
Tidak mencampurkan penghuni lansia
laki-laki dan perempuan dalam satu wisma
Demikian masukan yang dapat kelompok
berikan yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan bagi panti untuk terus
meningkatkan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan para lansia penghuni
panti.
No comments:
Post a Comment
Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH