ASUHAN KEPERAWATAN FARINGITIS
A. DEFINISI
B. ETIOLOGI
Faringitis disebabkan oleh virus dan bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab:
Ø common cold/flu
Ø Adenovirus
Ø mononukleosis atau HIV.
Ø virus influenza (A dan B).
Ø parainfluenza (tipe 1-4).
Ø adenovirus.
Ø ECHO.
Ø juga disebabkan oleh berbagi jenis kuman
Bakteri yang menyebabkan faringitis antara lain:
Ø Streptokokus grup A
Ø Korinebakterium
Ø Arkanobakterium
Ø Streptococcus β hemolitikus.
Ø Streptococcus viridians.
Ø Streptococcus piyogenes
Ø Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
C. PATOFISIOLOGI
D. Klasifikasi
E.MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinis akut:
1.Membran faring tampak merah
2.Folikel tonsil dan limfoid membengkak dan di selimuti oleh eksudat
3.Nodus limfe servikal membesar dan mengeras
4.Mungkin terdapat demam,malaise dan sakit tenggorokan
5.Serak,batuk,rhinitis bukan hal yang tidak lazim.
Manifestasi klinis kronis:
1.Rasa iritasi dan sesak yang konstan pada tenggorokan.
2.Lendir yang terkumpul dalam tenggorokan dan dikeluarkan dengan batuk.
3.Kesulitan menelan.
Gejala Klinis
Penyakit faringitis cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut dan muntah-muntah. Tenggorokan terasa nyeri, amandel menjadi berwarna merah dan membengkak. Pada anak yang sudah lebih besar akan terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher sering membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Berbeda dengan faringitis virus, penderita faringitis streptokokus tidak mengalami rhinitis, suara serak atau batuk.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : kemerahan pada faring,adanya pembengkakan di daerah leher.
Palpasi : adanya kenaikan suhu pada bagian leher ,adanya nyeritekan. TTV : suhu tubuh mengalami kenaikan, nadi meningkat, dan napasnya cepat.
F. TES DIAGNOTIK
• Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam.
• Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru.
• Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan.
G. KOMPLIKASI
Penyakit ini jika dibiarkan sampai menjadi berat, dapat menimbulkan:
Ø Radang ginjal (glomerulonefritis akut)
Ø Demam rematik akut
Ø Otitis media (radang telinga bagian tengah)
Ø Sinusitis
Ø Abses peritonsila dan abses retropharynx (radang di sekitar amandel atau bagian belakang tenggorokan yang dapat menimbulkan nanah).
H. PENATALAKSANAAN
- Antibiotika golongan penisilin atau sulfonamida selama lima hari
- Antipiretik
- Obat kumur atau obat hisap dengan desinfektan
- Bila alergi dengan penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamisi
-Berkumur-kumur dengan larutan garam hangat
-pemberian kompres panas atau dingin pada leher untuk meringankan nyeri.
Pengobatan secara medikamentosa umumnya menggunakan:
· Antimikroba.
· Antibiotik (dalam dosis terapeutik).
· Dapat pula dilakukan dengan cara irigasi hangat pada tenggorokan.
· Pemberian cairan yang adekuat.
· Menghindari makanan pedas, berminyak, mengandung vetsin, es juga disarankan.
A. PENGKAJIAN
1. Data Dasar
· Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi).
· Identitas Penanggung jawab (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasien)
2. Riwayat Keperawatan, meliputi :
· Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji data subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien, meliputi:
- Alasan masuk rumah sakit
- Pasien mengatakan terasa nyeri di leher dan mengatakan sakit saat menelan.
Keluhan utama:
- Pasien mengatakan nyeri dan merasa tidak nyaman pada daerah leher
- Pasien mengatakan mual dan muntah.
- Pasien mengatakan sakit saat menelan
Kronologis keluhan: Pasien mengeluh nyeri di leher.
· Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Mengkaji apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya, sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami infeksi pada saluran tenggorokan dan pernah menjalani perawatan di RS.
· Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama.
· Riwayat Psikososial dan Spiritual
Mengkaji orang terdekat dengan pasien, interaksi dalam keluarga, dampak penyakit pasien terhadap keluarga, masalah yang mempengaruhi pasien, mekanisme koping terhadap stres, persepsi pasien terhadap penyakitnya, tugas perkembangan menurut usia saat ini, dan sistem nilai kepercayaan.
· Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Dikaji 14 kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Handerson, seperti :
- Bernafas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur respirasi rate.
- Makan
Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya.
- Minum
Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya).
- Eliminasi
Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar. Terutama difokuskan tentang apakah pasien cenderung susah dalam buang air kecil (kaji kebiasaan dan volume urine) atau mempunyai keluhan saat BAK.
- Gerak aktivitas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa mengalami Faringitis) atau saat menjalani perawatan di RS.
- Istirahat/tidur
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pola tidur akibat penyakitnya, misalnya gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak saat merasa nyeri di leher.
- Pengaturan suhu tubuh
Dikaji/ukur TTV pasien untuk mengetahui keadaan umum pasien, apakah pasien mengalami demam atau tidak. Selain itu, observasi kondisi pasien mulai dari ekspresi wajah sampai kulit, apakah kulitnya hangat atau kemerahan, wajahnya pucat atau tidak.
- Kebersihan diri
Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS, bila perlu libatkan keluarga pasien dalam melakukan perawatan diri pasien, misalnya saat mandi dan sebagainya.
- Rasa nyaman
Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala penyakitnya, misalnya pasien merasa nyeri di perut bagian bawah (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri).
- Rasa aman
Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani keluarganya selama di RS.
- Sosial dan komunikasi
Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya).
- Pengetahuan
Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit yang diderita saat ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya.
- Rekreasi
Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi.
- Spiritual
Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya.
· Pengkajian Fisik, meliputi :
- Keadaan Umum, yaitu dengan mengobservasi bentuk tubuh, warna kulit, kesadaran, dan kesan umum pasien (saat pertama kali masuk RS).
- Gejala Kardinal, yaitu dengan mengukur TTV (suhu, nadi, tekanan darah, dan respirasi).
- Keadaan Fisik, yaitu melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dari kepala sampai anus, tapi lebih difokuskan pada bagian leher.
- Pemeriksaan Penunjang, yaitu dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan uji kultur dan uji resistensi.
· Anamnesa
Adanya riwayat merokok,adanya riwayat streptokokus,dan yang penting ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri/lesi pada mulut (nyeri saat menelan).
B. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan
b. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolic, dehidrasi, pakaian tidak cocok, penyakit, penurunan / tidak mampu berkeringat, medikasi.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
d. Resiko deficit volume cairan b.d output berlebihan
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan MedikalBedahJakarta:EGC
Carpenito, LyndaJual.2002.BukuSakuDiagnosisKeperawatan.Jakarta: EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C.,dkk.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. Et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika
Brunner & suddarth.2000.Buku saku Keperawatan Medical Bedah.jakarta:EGC.
Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Sabiston David. C, Jr. M.D, 1994, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
A. DEFINISI
Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring.(Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000) Faringitis adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus dan
bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggrokan, faring eksudat dan
hiperemis, demam, pembesaran limfonodi leher dan malaise. (Vincent, 2004)
Faringitis ( pharyngitis) adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring yang disebabkan oleh bakteri atau virus tertentu. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.(Wikipedia.com).
B. ETIOLOGI
Faringitis disebabkan oleh virus dan bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab:
Ø common cold/flu
Ø Adenovirus
Ø mononukleosis atau HIV.
Ø virus influenza (A dan B).
Ø parainfluenza (tipe 1-4).
Ø adenovirus.
Ø ECHO.
Ø juga disebabkan oleh berbagi jenis kuman
Bakteri yang menyebabkan faringitis antara lain:
Ø Streptokokus grup A
Ø Korinebakterium
Ø Arkanobakterium
Ø Streptococcus β hemolitikus.
Ø Streptococcus viridians.
Ø Streptococcus piyogenes
Ø Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
C. PATOFISIOLOGI
Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau faringitis.
![]() |
| Pathway Faringitis |
D. Klasifikasi
Berdasarkan lama berlangsungnya
• Faringitis akut, adalah radang tenggorok yang disebabkan oleh virus dan bakteri yaitu streptokokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan tonsil yang masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk.Faringitis ini terjadinya masih baru,belum berlangsung lama.
• Faringitis kronis adalah radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkungan berdebu,menggunakan suara berlebihan, menderita batu kronik, dan kebiasan menkonsumsi alcohol dan tembakau.
Faringitis kronik dibagi menjadi 3, yaitu:
v Faringitis hipertrofi,ditandai dengan penebalan umum dan kongesti membran mukosa.
v Faringitis atrofi merupakan tahap lanjut dari faringitis hipertrofi (membran tipis, keputihan,licin dan pada waktunya berkerut).
v Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding faring.
Manifestasi klinis akut:
1.Membran faring tampak merah
2.Folikel tonsil dan limfoid membengkak dan di selimuti oleh eksudat
3.Nodus limfe servikal membesar dan mengeras
4.Mungkin terdapat demam,malaise dan sakit tenggorokan
5.Serak,batuk,rhinitis bukan hal yang tidak lazim.
Manifestasi klinis kronis:
1.Rasa iritasi dan sesak yang konstan pada tenggorokan.
2.Lendir yang terkumpul dalam tenggorokan dan dikeluarkan dengan batuk.
3.Kesulitan menelan.
Gejala Klinis
Penyakit faringitis cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut dan muntah-muntah. Tenggorokan terasa nyeri, amandel menjadi berwarna merah dan membengkak. Pada anak yang sudah lebih besar akan terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher sering membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Berbeda dengan faringitis virus, penderita faringitis streptokokus tidak mengalami rhinitis, suara serak atau batuk.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : kemerahan pada faring,adanya pembengkakan di daerah leher.
Palpasi : adanya kenaikan suhu pada bagian leher ,adanya nyeritekan. TTV : suhu tubuh mengalami kenaikan, nadi meningkat, dan napasnya cepat.
F. TES DIAGNOTIK
• Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam.
• Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru.
• Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan.
G. KOMPLIKASI
Penyakit ini jika dibiarkan sampai menjadi berat, dapat menimbulkan:
Ø Radang ginjal (glomerulonefritis akut)
Ø Demam rematik akut
Ø Otitis media (radang telinga bagian tengah)
Ø Sinusitis
Ø Abses peritonsila dan abses retropharynx (radang di sekitar amandel atau bagian belakang tenggorokan yang dapat menimbulkan nanah).
H. PENATALAKSANAAN
- Antibiotika golongan penisilin atau sulfonamida selama lima hari
- Antipiretik
- Obat kumur atau obat hisap dengan desinfektan
- Bila alergi dengan penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamisi
-Berkumur-kumur dengan larutan garam hangat
-pemberian kompres panas atau dingin pada leher untuk meringankan nyeri.
Pengobatan secara medikamentosa umumnya menggunakan:
· Antimikroba.
· Antibiotik (dalam dosis terapeutik).
· Dapat pula dilakukan dengan cara irigasi hangat pada tenggorokan.
· Pemberian cairan yang adekuat.
· Menghindari makanan pedas, berminyak, mengandung vetsin, es juga disarankan.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Data Dasar
· Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi).
· Identitas Penanggung jawab (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasien)
2. Riwayat Keperawatan, meliputi :
· Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji data subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien, meliputi:
- Alasan masuk rumah sakit
- Pasien mengatakan terasa nyeri di leher dan mengatakan sakit saat menelan.
Keluhan utama:
- Pasien mengatakan nyeri dan merasa tidak nyaman pada daerah leher
- Pasien mengatakan mual dan muntah.
- Pasien mengatakan sakit saat menelan
Kronologis keluhan: Pasien mengeluh nyeri di leher.
· Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Mengkaji apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya, sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami infeksi pada saluran tenggorokan dan pernah menjalani perawatan di RS.
· Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama.
· Riwayat Psikososial dan Spiritual
Mengkaji orang terdekat dengan pasien, interaksi dalam keluarga, dampak penyakit pasien terhadap keluarga, masalah yang mempengaruhi pasien, mekanisme koping terhadap stres, persepsi pasien terhadap penyakitnya, tugas perkembangan menurut usia saat ini, dan sistem nilai kepercayaan.
· Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Dikaji 14 kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Handerson, seperti :
- Bernafas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur respirasi rate.
- Makan
Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya.
- Minum
Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya).
- Eliminasi
Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar. Terutama difokuskan tentang apakah pasien cenderung susah dalam buang air kecil (kaji kebiasaan dan volume urine) atau mempunyai keluhan saat BAK.
- Gerak aktivitas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa mengalami Faringitis) atau saat menjalani perawatan di RS.
- Istirahat/tidur
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pola tidur akibat penyakitnya, misalnya gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak saat merasa nyeri di leher.
- Pengaturan suhu tubuh
Dikaji/ukur TTV pasien untuk mengetahui keadaan umum pasien, apakah pasien mengalami demam atau tidak. Selain itu, observasi kondisi pasien mulai dari ekspresi wajah sampai kulit, apakah kulitnya hangat atau kemerahan, wajahnya pucat atau tidak.
- Kebersihan diri
Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS, bila perlu libatkan keluarga pasien dalam melakukan perawatan diri pasien, misalnya saat mandi dan sebagainya.
- Rasa nyaman
Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala penyakitnya, misalnya pasien merasa nyeri di perut bagian bawah (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri).
- Rasa aman
Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani keluarganya selama di RS.
- Sosial dan komunikasi
Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya).
- Pengetahuan
Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit yang diderita saat ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya.
- Rekreasi
Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi.
- Spiritual
Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya.
· Pengkajian Fisik, meliputi :
- Keadaan Umum, yaitu dengan mengobservasi bentuk tubuh, warna kulit, kesadaran, dan kesan umum pasien (saat pertama kali masuk RS).
- Gejala Kardinal, yaitu dengan mengukur TTV (suhu, nadi, tekanan darah, dan respirasi).
- Keadaan Fisik, yaitu melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dari kepala sampai anus, tapi lebih difokuskan pada bagian leher.
- Pemeriksaan Penunjang, yaitu dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan uji kultur dan uji resistensi.
· Anamnesa
Adanya riwayat merokok,adanya riwayat streptokokus,dan yang penting ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri/lesi pada mulut (nyeri saat menelan).
B. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan
b. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolic, dehidrasi, pakaian tidak cocok, penyakit, penurunan / tidak mampu berkeringat, medikasi.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
d. Resiko deficit volume cairan b.d output berlebihan
Rencana Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Lap
|
NOC / Tujuan
|
NIC / Intervensi
|
|
1.
|
Nyeri acute b-d. peradangan Batasan karakteristik
-
Laporan secara verbal atau non verbal
-
Fakta dari
observasi
-
Posisi antalgic untuk menghindari
nyeri
-
Gerakan melindungi
-
Tingkah laku berhati-hati
-
Muka topeng
-
Gangguan tidur (mata sayu, tampak capak, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
-
Terfokus pada diri sendiri
-
Fokus menyempit penurunan persepsi waktu kerusakan proses berpikir,
penurunan dengan orang lain dan lingkungan)
-
Tingkah laku distraksi,
contoh : jalan-jalan, menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang)
-
Respon autonom
(seperti diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan nafas, nadi dilatasi pupil).
-
Perubahan
autonomic dalam tonus (mungkin
dalam rentang dari lemah ke kaku)
-
Tingkah laku
ekspresif contoh gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas
panjang / berkeluh kesah.
-
Perubahan dalam
nafsu makan dan minum.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x
24 jam nyeri berkurang dengan
kriteria hasil
1.
Pasien melaporkan bahwa nyeri berkurang
2.
Pasien melaporkan kebutuhan tidur dan istirahat tercukupi
3.
Pasien mampu menggunakan metode non farmakologi untuk mengurangi nyeri.
|
Manajemen nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi.
2. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi
terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien.
4. Kaji kultur yang mem-pengaruhi respon nyeri.
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
6. Evaluasi bersama
pa-sien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
7. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
8. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan dan kebi-singan.
9. Kurangi faktor presi-pitasi nyeri
10. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dinterpersonai).
11. Kaji tipe
dan sumber nyeri untuk menentukan intervensio.
12.
Ajarkan tentang Teknik non farmakologi
13. Berikan analgetik
untuk mengurangi nyeri
14. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
15.
Tingkatkan istirahat
16. Kolaborasikan
dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
17. Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
Administrasi analgetik
1. Tentukan lokasi,
karak-teristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih
analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu.
5. Tentukan
analgesik pilihan
tergantung tipe dan beratnya nyeri.
6.
Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian dan dosis optimal
7.
Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur.
8. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama kali.
9.
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri
hebat
10.
Evaluasi efektifitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
|
|
2.
|
Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cair an aktif, kegagalan dalam mekanisme
penga-turan
Batasan karakteristik :
- Kelemahan
- Haus
- Penurunan turgor kulit
- Membran mucus/kulit
kering
- Nadi meningkat,
tekanan darah
menurun,tekanan
nadi
menurun
- Penurunan pengisian
kapiler
- Perubahan status
mental
- penurunan urin output
- Peningkatan
konsentrasi urun
- Peningkatan suhu
tubuh
- Hematokrit meningkat
- Kehilangan berat
badan mendadak.
|
Setelah dilakukan tindak-an perawatan selama 3 X 24 jam volume cairan dan elektrolit adequate /
seimbang.
Hidrasi (0602)
Kriteria hasil :
- Hidrasi
kulit adekuat
- Tekanan darah
dalam
batas normal
- Nadi teraba
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit
normal
- Berat badan stabil dan dalam batas normal
- Kelopak mata tidak cekung
- Urin out put normal
- Tidak demam
- Tidak asites, edema perifer
- tidak ada rasa haus yang sangat
- tidak ada napas pendek /kusmaul
Balance
Cairan (0601)
Kriteria
hasil
- Tekanan darah normal
- Nadi perifer teraba
- Tidak terjadi ortostatik
hypotension
- Intake-output seimbang
dalam 24 jam
- Serum, elektrolit dalam
batas normal.
- Hmt dalam batas normal
- Tidak ada suara napas
tambahan
- BB stabil
- Tidak ada asites, edema
perifer
- Tidak ada distensi vena
leher
- Mata tidak cekung
- Tidak bingung
- Rasa haus tidak berlebih
an
- Membrane mukosa lem-
bab
- Hidrasi kulit adekuat
|
Monitor Cairan (4130)
111 1. Tentukan riwayat jenis dan banyaknya
intake
cairan dan kebiasaan eleminasi
2.. Tentukan faktor resiko yang meyebabkan
ketidak-seimbangan cairan (hipertermi,
diuretic,
kelainan ginjal, muntah,
poliuri, diare, diapore-
sis, terpapar panas, infeksi)
3. Menimbang BB
4. Monitor vital sign
5. Monitor intake dan output
6. Periksa serum,
elektrolit dan
membatasi cairan bila di-
perlukan
7. Jaga keakuratan
catatan in-
take dan
output
8. Monitor membrane
mukosa,
turgor kulit
dan rasa haus
9. Monitor warna
dan jumlah
urin
11.
Monitor distensi vena leher,
crackles di paru, odem peri-
fer dan peningkatan berat
badan.
10. Monitor akses intrvena
11. Monitor tanda dan gejala
overload
cairan
12. Catat adanya vertigo
13. Berikan cairan
14. Pertahankan aliran infuse
sesua advis
Manajemen Cairan (4120)
1. Timbang beratat badan etiap hari dan monitor
kecenderungannya.
2. Timbang popok
3. Pertahankan keakuratan catatan intake dan
output
4. Pasang kateter
kalau perlu
5. Monitor status hidrasi (kelembaban membrane
mukosa, denyut nadi, tekanan darah)
6. Monitor vital sign
7. Monitor tanda-tanda overhidrasi / kelebihan
ca-iran (crackles, edema perifer, distensi vena le-her, asites, edema pulmo)
8. Berikan cairan intravena
9. Monitor status nutrisi
10.
Berikan cairan intravena
11.
Berikan intake oral selama 24 jam
12.
Berikan cairan dengan selang (NGT) kalau
perlu
13.
Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit
14.
Konsul dokter jika ada tanda dan gejala
kelebihan cairan
Manajemen
Hipovolemia (4180)
1. Monitor status cairan termasuk intake dan
output
2. Pertahankan patensi akses intravena
3. Monitor Hb dan Hct
4. Monitor kehilangan cairan (perdarahan,
muntah, diare)
5. Monitor tanda vital
6. Monitor respon pasien terhadap perubahan
cairan
7. Berikan cairan isotonic / kristaloid (NaCl,
RL) untuk rehidrasi ekstraseluler
8. Monitor tempat tusukan intravena dari tanda
infiltrasi atau infeksi
9. Monitor IWL (missal :diaporesis)
10.
Anjurkan pasien untuk menghindari mengubah
posisi dengan cepat, dari tidur ke
duduk atau
berdiri
11.
Monitor berat badan
1 12. Monitor tanda dehirasi ( turgor kulit
menurun,
pengisi-an kapiler lambat, membrane
mukosa
kering, urin output menurun,
hipotensi, rasa
haus meningkat, nadi lemah
13. Dorong intake oral (distribusikan
cairan selama
24 jam dan beri cairan diantara
waktu makan)
14. Pertahankan aliran infuse
15. Posisi pasien Trendelenburg ketika
hipotensi
jika perlu
Monitoring Elektrolit (2020)
1. Monitor elektrolit serum
2. Laporkan jika ada ketidakse-
imbangan
elektrolit
3. Monitor tanda dan gejala ke-
tidakseimbanga
elektrolit
(kejang, kram perut,
tremor,
mual dan muntah,
letargi, ce-
mas, bingung,
disorientasi,
kram otot, nyeri
tulang, de-
presi
pernapasan, gangguan
irama
jantung, penuruna
kesadaran : apatis, coma)
Manajemen
Elektrolit (2000)
1.
Pertahankan cairan infuse yang mengandung elektrolit
2.
Monitor kehilangan elektrolit lewat suction nasogastrik, diare, diaporesis
3. Bilas
NGT dengan normal salin
4.
Berikan diet makanan yang kaya kalium
5.
Berikan lingkungan yang aman bagi pasien yang mengalami gangguan neurologist
atau neuromuskuler
6. Ajari
pasien dan keluarga tentang tipe, penyebab, dan pengobatan ketidakseimbangan
elektrolit
7. Konsul dokter bila tanda dan gejala
ketidakseimbang-an elektrolit menetap.
8. Monitor respon pasien terhadap terapi
elektrolit
9. Monitor efek samping pemberian suplemen
elektrolit.
10.Konsul
dokter pemberian obat yang mengandung
elektrolit (aldakton, kalsium glukonas, Kcl).
11.Berikan
suplemen elektrolit baik lewat oral,
NGT, atau infuse sesuai resep
|
|
3.
|
Hipertermi b.d. dehidrasi pening-katan metabolik
penyakit
Batasan karakteristik :
-
Suhu tubuh > normal
-
Kejang
-
Takikardi
-
Respirasi
meningkat
-
Diraba hangat
-
Kulit memerah
|
Setelah dilakukan tindakan perawatan 2 x
24 jam suhu badan pasien normal
Termoregulasi (0800)
Kriteria hasil :
-
Suhu kulit
normal
-
Suhu badan 35,9°C-37,7°C
-
Tidak ada sakit kepala
-
Tidak ada nyeri otot
-
Tidak ada perubahan warna kulit
-
Nadi, respirasi dalam batas normal.
-
Hidrasi adequate
-
Pasien menyatakan nyaman
-
Tidak menggigil
-
Tidak iritabel / gragapan / kejang
|
Pangaturan panas (3900)
1.
Monitor suhu tiap 2 jam.
2.
Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi.
3.
Monitor suhu dan warna kulit.
4.
Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertermi.
5.
Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adequate.
6.
Ajarkan pasien bagaimana mencegah panas yang tinggi.
7.
Berikan obat antipiretik
8.
Berikan obat untuk mencegah atau mengontrol menggigil.
Pengobatan Fungsi (3740)
1.
Monitor suhu dengan
sering
2.
Monitor IWL
3. Monitor suhu dan
warna kulit
4.
Monitor tekanan
darah, nadi dan respirasi
5.
Monitor derajat
penurunan kesadaran
6. Monitor kemampuan aktivitas
7. Monitor leukosit, hematokrit
8.
Monitor intake dan output
9.
Monitor adanya aritmia jantung
10. Dorong peningkatan intake cairan
11. Berikan cairan intravena
12. Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angin
13. Dorong atau lakukan oral hygiene
14. Berikan obat antipiretik untuk mencegah
pasien menggigil
15. Berikan obat antibiotic untuk mengobati
penyebab demam.
16. Berikan oksigen
17. Kompres dingin diselangkangan dan aksila
18. Anjurkan pasien untuk tidak memakai
selimut clan memakai selimut dan memakai baju berbahan
dingin.
Manajemen lingkungan (6480)
1.
Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi
2.
Berikan tempat tidur clan kain/linen yang bersih dan nyaman
3.
Batasi pengunjung
Mengontrol infeksi (6540)
1.
Anjurkan pasien
Untuk mencuci tangan
2.
Gunakan sabun Untuk mencuci tangan
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan perawatan Pasien
4.
Ganti tempat
infuse dan bersihkan sesuai dengan
protokol.
5.
Berikan perawatan
kulit di area yang odem
6.
Dorong pasien Untuk
cukup istirahat
7.
Lakukan pemasangan
infuse dengan teknik aseptik
8. Anjurkan pasien minum antibiotik sesuai resep.
|
|
4.
|
Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (1975) berhubungan dengan ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna makanan
atau mengabsorbsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor bioiogis, psikologis
atau ekonomi.
Batasan karakteristik :
- Berat badan 20% atau lebih
dibawah ideal
- Dilaporkan adanya intake
makanan yang kurang dari RPA (Recommended daily allowance)
- Membrana mukosa dan konjungtiva
pusat
- Kelemahan otot yang digunakan
untuk menelan/mengunyah.
- Luka, inflamasi pada rongga
mulut
- Mudah merasa kenyang, sesaat
setelah mengunyah makanan.
- Dilaporkan atau fakta adanya
kekurangan makanan
- Dilaporkan adanya perubahan
sensasi rasa
- Perasaan ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan BB dengan makanan
cukup
- Keengganan untuk makan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdomen dengan atau tanpa
patologi.
- Kurang berminat terhadap
makanan
- Pembuluh darah kapiler mulai
rapuh
- Diare atau steatorhea
- Kehilangan rambut yang cukup
banyak (rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi, miss
informasi
|
Setelah
dilakukan tindakan ke-perawatan selama 2 x 24 jam kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil :
- Adanya peningkatan berat badan
sesuai dengan tujuan
- Berat badan ideal sesuai dengan
tinggi badan
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
- Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi
- Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan
- Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
|
Monitor nutrisi
1. BB pasien dalam batas normal
2.
Monitor adanya penurunan berat
badan
3. Monitor
tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
4.
Monitor interaksi
anak atau orang tua selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6.
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama
jam makan
7. Monitor
kulit kering dan perubahan pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor
kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
10. Monitor
mual dan muntah
11.
Monitor kadar albomin, total Protein, Hb dan Ht.
12.
Monitor makanan
kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
14. Monitor
pucat, kemerahan dan kekeringan jaringan konjungtiva
15. Monitor
kalori dan intake nutrisi
16.
Catat adanya
edema, hiperemik, hipertonik papula Iidah dan cavitas oval.
Manajemen
nutrisi
1. Hindari makanan yang membuat
alergi
2. Hindari makanan yang tidak bisa ditoleransi
oleh pasien
3. Kolaborasi
dengan ahli gizi untuk
menentukan kebutuhan kalori dan
jenis makanan yang dibutuhkan.
4. Berikan
makanan secara selektif
5.
Berikan buah
segar (pisang) atau jus buah
6.
Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi yang dibutuhkan pasien dan
bagaimana cara makannya.
|
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan MedikalBedahJakarta:EGC
Carpenito, LyndaJual.2002.BukuSakuDiagnosisKeperawatan.Jakarta: EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C.,dkk.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. Et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika
Brunner & suddarth.2000.Buku saku Keperawatan Medical Bedah.jakarta:EGC.
Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Sabiston David. C, Jr. M.D, 1994, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

No comments:
Post a Comment
Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH