PENGERTIAN
Imunisasi adalah suatu usaha
yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga
dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Departemen Kesehatan RI (2004)
Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh.
TUJUAN DAN KEGUNAAN IMUNISASI
Menurut Depkes RI (2001), tujuan pemberian imunisasi adalah untuk
mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh
wabah yang sering muncul. Pemerintah Indonesia sangat
mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan
angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/ anak-anak pra sekolah.
- Untuk melindungi dan mencegah terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.
- Untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit.
SASARAN IMUNISASI
- Semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir memerlukan Imunisasi untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang berbahaya.
- Semua orang yang kontak (berhubungan) dengan penderita penyakit menular
Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada tempat suntikan. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20 C. (Depkes RI, 2005)
Vaksinasi DPT
Kekebalan
terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian
vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah
dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah
dimatikan. Dosis penyuntikan 0,5 ml diberikan secara
subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3
kali dengan interval 4 minggu. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Bila
ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi, kejang,
kesadaran menurun, menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam,
hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. (Depkes RI, 2005)
Vaksinasi Polio
Untuk
kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang
mengandung viruis polio yang mengandung virus polio tipe 1, 2 dan 3 dari
Sabin. Vaksin yang diberikan melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. (Depkes RI, 2005)
Vaksinasi Campak
Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering atau freezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum digunakan. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5 ml pada anak umur 9-12 bulan. Di
negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal
dengan maksud memberikan kekebalan sedini mungkin, sebelum terkena
infeksi virus campak secara alami. Pemberian imunisasi
lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang
berasal dari ibu (maternal antibodi), ternyata dapat menghambat
terbentuknya zat kebal campak dalam tubuh anak, sehingga imunisasi
ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian. Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan. (Depkes RI, 2005) Adapun jadwal pemberian imunisasi dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.1
Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak
|
Jenis Imunisasi
|
Umur (bulan)
|
|
|||||||||||||||
|
Lahir
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
9
|
10
|
|||||||||
|
Program Pengembangan Imunisasi (PPI), diwajibkan
|
|
||||||||||||||||
|
BCG
|
BCG
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
Hepatitis B
|
Hepatitis B1
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
|
|
Hepatitis B2
|
|
Hepatitis B3
|
|||||||||||||
|
DPT
|
|
|
DPT1
|
|
|
|
|
||||||||||
|
|
|
|
DPT2
|
|
|
|
|||||||||||
|
|
|
|
DPT3
|
|
|
||||||||||||
|
Polio
|
Polio 1
|
|
Polio 2
|
|
|
|
|
||||||||||
|
|
|
|
|
Polio 3
|
|
|
|
||||||||||
|
|
|
|
|
|
Polio 4
|
|
|
||||||||||
|
Campak
|
|
|
|
|
|
|
Campak
|
|
|
||||||||
Sumber : Depkes RI, Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi
- BCG, dua minggu setelah imunisasi terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan, seterusnya timbul bisul kecil dan menjadi luka parut.
- DPT, umumnya bayi menderita panas sore hari setelah mendapatkan imunisasi, tetapi akan turun dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan merah dan bengkak serta sakit, walaupun demikian tidak berbahaya dan akan sembuh sendiri.
- Campak, panas dan umumnya disertai kemerahan yang timbul 4 – 10 hari setelah penyuntikan.
- Polio, Pada umumnya pemberian vaksin polio tidak memberikan dampak. Namun pada sebagian kecil anak yang menerima vaksin polio, dapat mengalami pusing, diare ringan dan nyeri otot.
- Hepatitis B, Pada umumnya terjadi reaksi lokal yang ringan dan sementara, seperti nyeri pada tempat suntikan. Kadang-kadang dapat terjadi demam selama 1-2 hari setelah penyuntikan.
No comments:
Post a Comment
Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH